Skip to main content

Indahnya Membersamai Qur'an

Indahnya membersamai qur'an.
Ya, ini bukan hanya sekedar kata-kata, tapi ini kata-kata yang menjanjikan, kata-kata yang akan menjadi kenyataan.
Aku akan bercerita tentang kehidupanku bersamanya. tentang bagaimana aku memutuskan untuk fokus hanya untuknya.

ya, berawal dari semenjak SMA aku pengen banget ngebahagiain kedua orang tuaku, yaitu umi dan abiku. saat dimana titik aku tidak tau lagi bagaimana bisa membahagiakan mereka dunia akhirat, tentang melihat diriku yang mulai bertambah umur, bahkan tentang umur 17 tahun aku merasa belum dapat memberi mereka apa-apa. ya, semua berawal dari aku kelas 2 SMA.

Saat itu, cita-cita aku yang dulu untuk menjadi dokter melemah karena nilai mtk ku yang mulai menurun, lalu aku berfikir ulang, aku pengen jadi apa, apa yang pengen aku capai kalau aku tidak bisa menjadi dokter. disini aku memutuskan ketika lulus nanti aku ingin menghafal qur'an dulu agar bisa memberi mahkota ke umi dan abi. 
nyatanya, ketika kelas 3 SMA aku menginginkan kuliah di IPB, ingin sekali. aku bisa (dalam benakku), sampai pada saatnya sbmptn, aku mengalami hal yang menyakitkan ya sangat menyakitkan. Bagaimana bisa selepas pulang dari tempat tes aku terasa begitu bahagia, karena lancar dan bisa dalam mengerjakan soalsoalnya, aku bisa masuk IPB! ya!. setelah menginjakkan kaki dirumah, abiku cerita yang diamanahkan sebagai ketua pengawas di SMA 2 Depok kalo gasalah. Abi cerita "kak, tadi ada yg lupa ngisi kode soal, ya jelas udah gabisa orang udah disegel". DEG! disitu ingatan memori aku seketika berbalik ke masa-masa mengerjakan SBM. "YAP, Aku mengalami hal yang sama :,(", kejeeer sekalii, yaa ketika saintek kertas LJK aku cacat, cacat pada bagian buletan ke 3-5 no peserta, saat itu dalam benakku "emang dari sananya LJK nya kaya gini kali ya, yaudahlah". dan akhirnya no peserta kan xxx-xxx-xxx, nah yang tengahnya aku ga isi karena ga ada buletannya, aku baru ingeet, padahal kalau boleh flashback ketika SMA, aku adalah tipe orang yang sangat hati-hati kalau ujian, kotor sedikit pasti langsung kedepan untuk minta ganti.
Qadarullah, ini salah satu ketidaktelitian aku, mungkin bisa jadi ini ketetapan yang terbaik dari Allah.
Namun, semua hal ini berharga untuk ku ambil pelajaran di dalamnya.

Yap, mungkin memang Allah ingin aku menghafal qur'an dulu. Lalu aku memutuskan untuk menghafal qur'an dan alhamdulillah keterima di salah satu ma'had. Namun, tak sampai disitu aku diuji. ketika di asrama aku di uji lagi, di uji melalui orang tua ku, ya, abiku divonis sama dokter sakit kanker darah.
Anak mana yang tidak sedih? anak mana yang tidak resah gelisah? disinilah tubuhku seketika lemah, nangis tiap hari.
Sampai dititik aku benerbener merasa hatiku ganjel, gelisah, mempertanyakan "ini kenapaa?"
dan beberapa menit kemudian, umi ku nelfon " Hul, kamu baikbaik aja kan disana?, doain abi ya biar cepet sembuh, abi lagi dirawat dirumah sakit". AH, "Kenapa umi ga kasih tau uah mi? uah dari tadi hatinya ga tenang?" (nangis sekejer2nya). 
Dari sini Allah bener2 menguji aku, sampai dimana aku memutuskan untuk kabur dari asrama, senekat ini, tapi aku gabisa, abi ku lagi sakit, kapan aku bisa merawat beliau lagi. semua kata-kata itu mendukung aku untuk kabur.

 Di titik ini, aku memutuskan untuk keluar dari asrama, keluar dengan baik-baik setelah seminggu aku kabur. berjalannya waktu, abi ku sering terapi dengan  mencampurkan habbat dan minyak zaitun. ya, seketika abi sudah jauh lebih baik, sudah terbebas dari sakit itu. seketika akupun tersadar ini salah satu ujian untukku seberapa aku kuat dalam menghafal qur'an, namun Allah uji begitu kuat dan besar, yang di saat itu aku bener2 masih lemah, belum bisa jauh dari keluarga.

Lalu, aku tetap memutuskan untuk lanjut hafal qur'an dengan bisa pulang pergi kerumah dan sambil kerja, namun itu menghafal pulang pergi hanya berlangsung selama kurang lebih 2 bulan, karena setelahnya aku memutuskan untuk kuliah. 
thats way, this is my way. aku percaya Allah akan memberikan hal indah di setiap yang telah Allah tetapkan, atas semua yang sudah ku lewati.itu keyakinanku yang benarbenar kuyakini secara nyata semenjak pertama kali aku mendapatkan ujian ini. lanjuut

Comments