Sedikit cerita terkait titik bangkit, pasti setiap orang memiliki titik bangkitnya, Nah untuk aku, masa-masa kuliah adalah titik bangkit diri ini setelah memahami setiap perjalanan yang telah dilalui, yang mana ada rasa sedih, senang, terharu, dan segala macam rasa, dirasakan.
Ketika menduduki bangku kuliah mencoba menerima dan mengambil pelajaran adalah hal yang sesuatu banget. Apalagi ketika sebelumnya mengetahui gagal Sbmptn 15 karena kurang no peserta di soal saintek, padahal udah merasa yakin, tenang, hulwah bisa masuk IPB, di perjalanan pulang seneng banget karena bisa ngerjain soalnya masyaAllah :'). Tapi siapa sangka, ternyata ada kekeliruan kecil yang mengakibatkan kesalahan besar ?.
Sampai merenung "Hul, semasa SMA, LJK kotor sedikit aja kamu langsung kedepan, khawatir ga kebaca, dll. Tapi kenapa pas sbm padahal kamu udah merasa aneh sama pengisian no. pesertanya, disitu ga ada angkanya hul untuk dilingkarin ?!, Tapi kenapa tumben cuma berkata dalam hati "ooh mungkin ini emang udah kaya gini"", kalo diinget2, sekarang cuma bisa senyum sendiri berusaha memaknai kembali apa yang Allah maksud, menghubungkannya dengan apa yang didapat saat ini. Ya, walaupun ketika menyadari hal itu, jujur sedih banget, shocked, ada faktor yang bisa jadi belum aku penuhi untukNya.
Tapi disinilah Allah menguji seberapa cepat diri untuk mengambil hikmah, intropeksi diri, dan segera memetik nikmat yang Allah akan kasih.
Berjalannya waktu banyak sekali pengalaman yang kulewati dan Allah menempatkanku dan memilihkanku di salah satu kampus yang memiliki lingkungan islam, STT NF, yaitu kampus berbasis IT.
Alhamdulillahnya ketika awal masuk disini tidak dengan merasa "salah jurusan", karena sebelum aku disini aku sempat bertemu bahkan kerja dengannya, beliau adalah salah satu anak Fasilkom UI jurusan Sistem Informasi.
Aku suka aktivitasnya, karena dia itu jago gambar digital, buat barcode, ngotakngatik komputer, dan ternyata emang beliau salah satu pemenang lomba comfest UI. Nah, darisinilah aku tertarik masuk Sistem Informasi. Ya, mungkin awal2 sebelum tau banget SI, sempat kepikiran juga "hul dari pengen jurusan kesehatan tiba2 pengen jurusan IT, serius?" (dalam hati).
Tapi qadarullah, karena yang pasti ini salah satu bantuan Allah. Rasa yakin itu ada untuk memilih ini, ga peduli mau swasta atau bukan, mau kampus baru/lama. Yang terpenting adalah ilmunya bukan ?
Nah, dikampus inilah titik awal berusaha keluar dari zona nyaman, memberanikan diri untuk bisa presentasi didepan dengan berani, menghilangkan nerveus. Yap pastinya ada beberapa orang yang mendorongmu untuk jangan pernah putus asa secara langsung/tidak langsung.
Memang, keluar dari zona nyaman dari yg dulunya lbh memilih diam (takutan, gaberani) ga semudah itu. Tekad harus kuat dan yakin pasti bisa.
Namun, bukan berarti keluar dari zona nyaman meninggalkan sifat2 diri yang dulu, namun memperbaiki apa yang sekiranya perlu diperbaiki.
Dengan izin Allah, tekad ini membuktikan bahwa diri ini bisa melewatinya.
Dengan izin Allah, husnudzan kita kepada Allah akan membuahkan hasil yang nikmat sekali, tidak dapat tergambarkan :'').
Dengan izin Allah aku menyukai masa-masa di kuliah, menyukai pelajarannya, mendapatkan dosen-dosen yang masyaAllah memotivasinya, temen-temen yang baik, lingkungan yang menjaga, dll.
Untuk kamu yang sedang berproses, nikmatilah. Kita perlu untuk tidak selalu mengukur segalanya dengan hasil, namun proses lah yang sangat bermakna. Dengan kita dapat menghargai setiap prosesnya, maka kita akan dapat menghargai diri kita sendiri :)
Nyatanya, Allah tidak akan pernah sedikitpun membiarkan hambaNya dalam kesedihan, janjiNya selalu tepat dan tak pernah melewati sasaran. KebaikanNya selalu mendekap untuk hamba2 yang tak mudah putus asa, kasih sayangNya selalu ada tanpa pernah putus. Ia adalah dzat yang selalu dekat lebih dekat dari urat nadi. Ia selalu mengetahui apa yang hambaNya butuhkan, manjadi solusi, dan selalu memberikan yang terbaik di setiap ketetapanNya. Allah, Sang Pemilik rencana terbaik, ketetapan terbaik di waktu terbaikNya yang selalu mendengar apa yang terlintas di hati / dikatakan secara lisan. Maka benar kata Allah "ketetapanKu adalah sesuai dengan prasangka hambaKu".
Comments
Post a Comment